Sistem Pencatatan Persediaan

Persediaan merupakan bagian penting dalam proses berjalannya suatu perusahaan. Dikatakan demikian karena persedian terbilang sangat menentukan tingkat keuntungan yang diperoleh perusahaan nantinya. Jika persediaan yang dimiliki sangat memadai, maka bukan tidak mungkin ada harapan keuntungan yang bisa di capai, namun akan sebaliknya, jika persediaan kurang memadai maka akan berdampak pada menurunnya tingkat keuntungan perusahaan bersangkutan.

Dan berikut ini ada dua sistem pencatatan untuk persediaan,  yaitu :
a) Sistem pencatatan persediaan perpetual (Perpetual Inventory System)
b) Sistem pencatatan persediaan periodik (Periodic Inventory System)

1. Sistem Perpetual/Metode Buku

Disebut sistem perpetual karena pencatatan akuntansinya dilakukan secara kontinyu (perpetual) baik untuk pencatatan jumlahnya maupun biayanya atau harga pokoknya. Dengan demikian jumlah maupun biaya persediaan dapat diketahui setiap saat. Sistem ini seringkali diterapkan oleh perusahaan yang menjual barang dagangan dengan harga per unit relatif mahal dan setiap unit barang dimungkinkan memiliki variasi spesifikasi sesuai dengan keinginan konsumen. Contoh perusahaan yang menerapkan misalnya perusahaan mobil, perusahaan pesawat terbang, mebel, dan peralatan rumah tangga. Sistem perpetual ini juga bisa diterapkan oleh perusahaan selain yang dicontohkan di atas dikarena penggunaan wide spreadsheet yang disediakan oleh computer dan penggunaan scanner untuk mengidentifikasi setiap item persediaan.

Perlakuan akuntansi untuk sistem pencatatan persediaan perpetual adalah sebagai berikut:
a. Pembelian barang dagangan akan di debit pada akun persediaan.
b. Beban angkut pembelian akan di debit pada akun persediaan.
c. Retur pembelian akan di kredit ke akun persediaan.
d. Potongan pembelian akan di kredit ke akun persediaan.
e. Beban pokok penjualan atau harga pokok penjualan (Cost of Good Sold) diakui bersamaan dengan pengakuan penjualan dan akun persediaan akan di kredit.
f. Akun persediaan adalah akun pengendali yang didukung dengan buku besar pembantu untuk setiap jenis/item persediaan.

2. Sistem Periodik/Metode Fisik

Disebut sistem periodik karena penghitungan jumlah dan nilai persediaan hanya akan diketahui pada akhir periode saja untuk penyiapan pembuatan laporan keuangan. Setiap terjadi transaksi pembelian barang maupun penjualan barang akun persediaan tidak pernah dimutasi atau tidak pernah didebit jika adapembelian atau dikredit jika ada penjualan. Akun persediaan akan diperbaharui nilainya hanya pada akhir periode saja sebelum penyusunan laporan keuangan melalui penghitungan fisik persediaan (stock opname) di gudang. Saat ini sangat sedikit perusahaan yang menerapkan system periodik kecuali untuk perusahaan kecil yang menjual barang barang tertentu secara eceran dengan harga yang murah missal permen, korek api, dan lain lain.

Perlakuan akuntansi untuk sistem pencatatan persediaan periodik adalah sebagai berikut:
a) Pembelian barang dagangan akan didebit pada akun pembelian.
b) Tidak ada pencatatan pada akun persediaan.
c) Beban angkut pembelian akan didebit pada akun beban angkut pembelian.
d) Retur dan potongan pembelian akan dikredit ke akun retur dan potongan pembelian.
e) Potongan tunai pembelian akun dikredit ke akun potongan tunai pembelian.
f) Beban pokok penjualan atau harga pokok penjualan (Cost of Good Sold) dihitung pada akhir periode setelah melakukan penghitungan fisik dan penilaian persediaan akhir.

sumber :  http://docs.smkn1sgs.sch.id/BSE-SMK/konsep%20dasar%20akun%20%26%20pelaporan%20keuangan%203/06%20akuntansi%20jilid%203%20bab%205.pdf

Persediaan adalah barang yang dimiliki  untuk dijual atau untuk diproses selanjutnya dijual. Berdasarkan pengertian di atas maka perusahaan jasa tidak memiliki persediaan, perusahaan dagang hanya memiliki persediaan barang dagang sedang perusahaan industri memiliki 3 jenis persediaan yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi (siap untuk dijual).

Dalam laporan keuangan, persediaan merupakan hal yang sangat penting karena baik laporan Rugi/Laba maupun Neraca tidak akan dapat disusun tanpa mengetahui nilai persediaan. Kesalahan dalam penilaian persediaan akan langsung berakibat kesalahan dalam laporan Rugi/Laba maupun neraca.

Dalam perhitungan Rugi/Laba nilai persediaan (awal & akhir) mempengaruhi besarnya Harga Pokok Penjualan (HPP).

HPP = PERSEDIAAN AWAL+PEMBELIAN BERSIH– PERSEDIAAN AKHIR

Untuk mencatat taransaksi-transaksi yang mempengaruhi nilai persediaan, terdapat 2 metode sebagai berikut :

1. Metode Pisik/Periodik (Periodik/Phisical Inventory System)

Dalam metode ini pencatatan persediaan hanya dilakukan pada akhir periode akuntansi melalui ayat jurnal penyesuaian. Transaksi yang mempengaruhi persediaan, dicatat masing-masing dalam perkiraan tersendiri sebagai berikut: Pembelian , Retur pembelian , Penjualan  dan Retur penjualan.

PERIODE AWAL

Perobahan persediaan   (Harga Pokok)

999,999.99

 

Persediaan

 

999,999.99

 

PEMBELIAN

Pembelian (Harga Pokok)

999,999.99

 

Ppn

999,999.99

 

Utang / Kas

 

999,999.99

  

PENJUALAN

Piutang/ Kas /Bank

999,999.99

 

Penjualan

 

999,999.99

Ppn

 

999,999.99

 

AKHIR PERIODE

Persediaan

999,999.99

 

Perubahan Persediaan (Harga Pokok)

 

999,999.99

 

Untuk mendapatkan nilai persediaan secara periodik dilakukan perhitungan fisik (Stock Opname).

Metode ini sudah mulai ditinggalkan karena secara jelas tidak mendukung integrasi system dimana, sepanjang peridode akuntansi berjalan tidak tersedia data mengenai  posisi persediaan. Hal ini menyebabkan data bagian akuntansi kurang mendukung  operasional. Laporan neraca  dan rugilaba tidak akan dapat dibuat sebelum nilai persediaan diketahui.

2.     Metode Perpetual  (Continual Inventory System)

Dalam metode ini pencatatan persediaan dilakukan setiap terjadi transaksi yang mempengaruhi persediaan. Saldo perkiraan persediaan akan menunjukan saldo persediaan yang sebenarnya. Dengan demikian pada saat penyusunan laporan keuangan tidak diperlukan ayat jurnal penyesuaian. Pencatatan transaksi kedalam perkiraan persediaan, adalah berdasarkan harga pokok produksi, baik transaksi pembelian maupun penjualan. Metode ini akan menampilkan dapat menyediakan laporan neraca setiap saat baik  untuk di print_out maupun secara visual.

A.       WAKTU PEMBELIAN

Persediaan

999,999.99

 

Ppn

999,999.99

 

Utang/Kas/Bank

 

999,999.99

 

B.       WAKTU DISTRIBUSI (PEMAKAIAN)     

Persediaan barng dalam proses

999,999.99

 

Pesediaan bahan baku

 

999,999.99

  

C.      PENERIMAAN HASIL PRODUKSI

Persediaan barang Jadi

999,999.99

 

Persediaan Dalam Proses

 

999,999.99

PENJUALAN

1.       Harga Jual

Piutang/Kas/Bank

999,999.99

 

Penjualan

 

999,999.99

Ppn

 

999,999.99

 

2.       Harga Pokok

Harga Pokok Penjualan

999,999.99

 

Persediaan Barang yang dijual

 

999,999.99

 

PENYESSUAIAN AKHIR

1.       JIKA SALDO SEMENTARA <  STOCK OPNAME

Koreksi persediaan/Barang dalam proses

999,999.99

 

Koreksi pemakaian bahan

 

999,999.99

 

2.       JIKA SALDO SEMENTARA > STOCK OPNAME

Koreksi pemakaian Bahan

999,999.99

 

Persediaan/Barang dalam prosess

 

999,999.99

 

Walaupun system perpetual menyediakan data persediaan secara terus menerus namun tetap diperlukan perhitungan fisik yang berfugnsi untuk mencocokan  fisik dengan catatan buku.

Penilaian Persediaan

Masalah-masalah yang timbul dalam penilaian persediaan dalam satu periode adalah :

Menetapkan jumlah dan nilai persediaan yang sudah terjual / sudah menjadi biaya.

Menentukan jumlah dan nilai persediaan yang belum terjual (yang harus dilaporkan dineraca)

Harga Pokok (Cost) dalam persediaan adalah semua pengeluaran-pengeluaran langsung/tidak langsung yang timbul untuk perolehan penyiapan dan penempatan agar persediaan tersebut dapat dijual.

Terdapat beberapa biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan persediaan antara lain harga beli, biaya-biaya pembelian, ongkos angkut, pajak, asuransi, pergudangan dan lain-lain, namun harga pokok barang biasanya hanya terdiri dari harga beli ditambah ongkos angkut sedangkan biaya-biaya lain dicatat sebagai biaya dalam perkiraan tersendiri untuk periode yang bersangkutan.

Dalam perusahaan industri maupun perusahaan dagang, transaksi menyangkut  persediaan  adalah hal pokok yang menyangkut sebagian besar system akuntansi.  Untuk itu perlu dibedakan dengan jelas sehingga dapat dipahami bahwa subs system  Inventory hanyalah bagian tertentu dari persediaan

Subs system yang secara langsung berkaitan dengan persediaan adalah  Accounts Payable, Accounts Receivable sedangkan Kas yang telah kita bahas dapat berhubungan secara langsung  dan dapat pula tidak.

Subs System Inventory, Purchase dan Invoice  biasa merupakan subs system khusus mengolah data operasional yang menghasilkan output sebagai bukti transasksi yang digunakan sebagai dasar  pecatatan ke buku besar  buku jurnal.

Persediaan dicatat melalui jurnal Pembelian dan jurnal penjualan sesuai dengan pilihan metode yang dipilih. Pada aplikasi ini adalah system perpetual Inventory. Proses menyusun jurnal transaksi dilakukan oleh aplikasi dari file transaksi sehingga pemakai hanya mencatat transaksi pada formulir elektronik yang disediaakan selanjutnya adalah tugasnya komputer.

Setelah membaca dan memahami langkah-langkah yang harus Anda lakukan, maka hal-hal yang harus  diperhatikan pada setiap langkah-langkah tersebut adalah:

Task 1:

Catatlah  transaksi pembelian dan penjualan barang dagangan yang terjadi selama bulan Mei pada PD. ABADI JAYA dengan menggunakan sistem pencatatan fisik/ periodik dan perpetual. Transaksi kegiatan PD. ABADI JAYA dan format jurnal untuk mencatat transaksi (Format 1) dapat anda download pada bagian resources dibawah ini. Untuk materi pencatatannya anda juga bisa mendownload pada bagian resources di bawah ini.      

Tambahan materi task 1: http://catatan-akt.blogspot.com/2008/01/akuntansi-persediaan-barang.html

Task 2:

Langkah selanjutnya,  hitunglah persediaan akhir menggunakan sistem fisik/periodik. Dalam penentuan nilai persediaan tersebut dapat digunakan beberapa metode yaitu:

  1. Metode FIFO/MPKP
  2. Metode LIFO/MTKP
  3. Metode Rata-rata atau Rata-rata Tertimbang

Sebelum Anda mengerjakan anda bisa mendownload materi sistem fisik/periodik pada bagian resources di bawah ini.            

Tambahan materi untuk task 2 dan task selanjutnya: http://pksm.mercubuana.ac.id/new/elearning/files_modul/34005-1-479219328987.doc

Task 3:

Setelah melakukan menghitung persediaan akhir, hal yang harus Anda lakukan adalah melakukan perhitungan Harga Pokok Penjualan dari masing metode pada sistem fisik/periodik (Metode FIFO/MPKP, Metode LIFO/MTKP dan Metode Rata-rata atau Rata-rata Tertimbang)

Task 4:

Membuat kesimpulan mana diantara metode penilaian persediaan barang dagangan pada sistem fisik/ periodik yang menghasilkan laba tinggi maupun rendah dan berikan alasannya. Hal ini bisa dilihat dari hasil laba yang diperoleh dari ketiga metode yang Anda gunakan. Buat kolom hasil perhitungan ketiga metode pada sistem fisik/periodik (Metode FIFO/MPKP, Metode LIFO/MTKP dan Metode Rata-rata atau Rata-rata Tertimbang). Contoh kolom dapat anda lihat pada materi sistem periodik. Untuk format kolom anda dapat mendownload pada bagian resources dibawah ini (Format 2).

Task 5:

Setelah melakukan perhitungan persediaan akhir secara fisik/periodik, selanjutnya melakukan perhitungan persediaan akhir dan Harga Pokok Penjualan menggunakan sistem perpetual. Langkah-langkahnya hampir sama dengan sistem fisik/periodik yaitu menggunakan tiga metode. Dalam perhitungan perpetual ini, metode yang digunakan yaitu:

  1. Metode FIFO/MPKP
  2. Metode LIFO/MTKP
  3. Metode Rata-rata Bergerak

Sebelum Anda mengerjakan tugas tersebut, Anda bisa mendownload materi sistem perpetual pada bagian resources di bawah ini. Untuk format perhitungannya Anda bisa menggunakan format yang telah disediakan dengan mendownload pada bagian resources di bawah ini.  

Task6:

Membuat kesimpulan mana diantara metode penilaian persediaan barang dagangan secara  perpetual yang menghasilkan laba tinggi maupun rendah dan berikan alasannya. Hal ini bisa dilihat dari hasil laba yang diperoleh dari ketiga metode yang Anda gunakan pada sistem perpetual. Buat kolom hasil perhitungan ketiga metode pada sistem perpetual (Metode FIFO/MPKP, Metode LIFO/MTKP dan Metode Rata-rata atau Rata-rata Bergerak). Untuk format kolom sama dengan format kolom pada perhitungan secara fisik/periodik anda dapat mendownload pada bagian di resources dibawah ini (Format 3).

Task 7:

Bandingkan dan buatlah kesimpulan dari kedua sistem pencatatan dan penilaian tersebut (fisik/periodik dan perpetual). Mana diantara kedua metode tersebut yang cocok digunakan untuk perusahaan dan berikan alasannya.

  1. PENGERTIAN PERSEDIAAN DAN CARA PENCATATAN

Persediaan merupakan barang yang diperoleh untuk dijual kembali atau bahan untk diolah menjadi barang jadi atau barang jadi yang akan dijual atau barang yang akan digunakan. Persediaan ini dapat dicatat dengan dua sistem yaitu: Sistem Periodik dan Sistem Perpetual.

Dalam Metode Perpetual, pada waktu membeli barang dibuat jurnal yang men-debet akun Persediaan Barang Dagangan dan meng-kredit akun Hutang atau Kas. Pada waktu menjual barang dibuat jurnal yang mendebet akun Harga Pokok Penjualan dan mengkredit akun Persediaan sehingga akun Persediaan akan menunjukkan harga pokok dari persediaan yang ada di gudang.

Jika menggunakan Sistem Periodik, jika ada penjualan barang tidak dibuat jurnal untuk harga pokok dari barang yang dijual di bagian akuntansi. Pada akhir tahun, persediaan yang ada di gudang penyimpanan dihitung jumlah kuantitasnya dan ditentukan nilai/harga belinya. Untuk menentukan persediaan yang dipakai/dijual, persediaan yang pernah ada (persediaan awal ditambah pembelian selama satu periode) dikurangi dengan persediaan akhir periode. Kemudian dibuat dua ayat jurnal penyesuaian. Jurnal yang pertama mendebet akun Ikhtisar Laba Rugi dan mengkredit akun Persediaan sejumlah persediaan awal. Jurnal yang kedua didasarkan atas hasil inventarisasi fisik barang pada akhir tahun. Jurnalnya mendebet akun Persediaan Barang Dagangan dan mengkredit akun Ikhtisar Laba Rugi. Ayat jurnal ini dibuat sekaligus dalam satu periode.

Berikut ini adalah ilustrasi jurnal untuk sistem perpetual dan sistem periodic, namun belum mencakup seluruh transaksi berkaitan dengan persediaan, seperti pembayaran ongkos angkut, penerimaan dan pemberian diskon.

Transaksi

Sistem Periodek

Sistem Perpetual

1.

Membeli barang dagangan secara kredit Rp 10.000

Pembelian

Hutang

10.000

 

10.000

Persediaan Brg Dag

Hutang

10.000

 

10.000

2.

Retur pembelian Rp 500

Hutang

Retur Pembelian

500

 

500

Hutang

Persediaan Brg Dag

500

 

500

3.

Terdapat barang yang dijual. Harga jual Rp 4.000 dan harga pokok barang Rp 1.500

Piutang/Kas

Penjualan

4.000

 

4.000

Piutang/Kas

Penjualan

HPP

Persediaan Brg Dag

4.000

 

1.500

 

4.000

 

1.500

4.  

Pada akhir tahun 

Mutlak harus dilakukan inventarisasi fisik karena tanpa inventarisasi fisik barang, tidak dapat diketahui persediaan yang ada

Tanpa inventarisasi sudah dapat diketahui persediaan, namun inventarisasi perlu dilakukan 

Misalkan menurut perhitungan fisik pada akhir tahun saldo persediaan Rp 200 dan pada awal tahun Rp 150.

 

Ikhtisar L/R

Persediaan B.D.

 

Persediaan B.D

Ikhtisar L/R

 

150

 

 

200

 

 

150

 

 

200

Jika hasil inventarisasi fisik tidak sama dengan saldo rekening persediaan, perusahaan perlu membuat jurnal, jika sama tidak perlu membuat jurnal.

 

  1. MENENTUKAN COST DARI PERSEDIAAN AKHIR

Jika perusahaan sering membeli barang dan harga beli masing-masing pembelian berbeda, maka perusahaan akan mengalami kesulitan dalam menentukan harga pokok barang yang dipakai/dijual dan harga pokok barang yang masih ada di gudang.

Sebagai contoh data persediaan barang dagangan untuk bulan Januari 2006 sebagai berikut:

    

Januari 1 Persediaan        200 unit @ $10 = $2,000

        12 Pembelian        400 unit @ $12 = $4,800

        26 Pembelian        300 unit @ $11 = $3,300

        30 Pembelian        100 unit @ $13 = $1,300

 

Setelah dilakukan inventarisasi fisik, jumlah pesediaan per 31 Januari 2006 adalah 300 unit. Tentukan:

  1. Persediaan per 31 Januari 2006.
  2. Harga pokok persediaan yang dijual dalam bulan Januari 2006.

    Barang yang tersedian untuk dijual selama bulan Januari adalah 200 + 400 + 300 + 100 = 1.000 unit, maka barang yang dijual adalah 1.000 – 300 = 700 unit. Karena harga belinya berbeda-beda, maka perlu asumsi arus barang yang akan digunakan sebagai dasar penentuan harga pokok barang yang dijual dan persediaan akhir sebagai berikut:

  1. FIFO (First In First Out), barang yang masuk terlebih dahulu dianggap yang pertama kali dijual/keluar sehingga persediaan akhir akan berasal dari pembelian yang termuda/terakhir.
  2. LIFO (Last In First Out), barang yang terakhir masuk dianggap yang pertama kali keluar, sehingga persediaan akhir terdiri dari pembelian yang paling awal.
  3. Rata-rata (Everage), pengeluaran barang secara acak dan harga pokok barang yang sudah digunakan maupun yang masih ada ditentukan dengan cara dicari rata-ratanya.

Penerapan asumsi ini berlaku baik dalam sistem periodik maupun dalam sistem perpetual.

  1. Jika perusahaan menggunakan Sisem Periodik
    1. FIFO

Dengan metode ini jumlah barang yang digunakan sebanyak 700 unit diasumsikan berasal dari barang yang pertama kali dibeli, yaitu:

    200 unit                @ $10 = $2,000

    400 unit                @ $12 = $4,800

    100 unit                @ $11 = $1,100

    Harga pokok penjualan             $7,900

Selanjutnya persediaan yang 300 unit dianggap dari pembelian tanggal 26 dan 30 Januari 2006 dengan rincian sebagai berikut:

    200 unit                @ $11 = $2,200

    100 unit                @ $13 = $1,300

    Persediaan akhir             $3,500

 

    1. LIFO

Dengan metode ini jumlah barang yang dijual sebanyak 700 unit diasumsikan berasal dari barang yang terakhir dibeli, yaitu:

100 unit                @ $13 = $1,300

300 unit                @ $11 = $3,300

300 unit                @ $12 = $3,600

Harga pokok penjualan             $8,200

Selanjut persediaan akhir 300 unit dianggap berasal dari pembelian tanggal 1 dan 12 Januari 2006, yaitu:

200 unit                @ $10 = $2,000

100 unit                @ $12 = $1,200

Persediaan akhir             $3,200

 

    3). Metode Rata-rata

Untuk menghitung persediaan akhir dan harga pokok penjualan perlu dibuat perhitungan sebagai berikut:

Tanggal

Keterangan

Unit

Harga per Unit

Jumlah

Jan 1

Persediaan

200

$10

$2,000

12

Pembelian

400

$12

$4,800

26 

Pembelian 

300

$11 

$3,300 

30 

Pembelian 

100 

$13 

$1,300 

Jumlah 

1,000 

 

$11,400 

Rata-rata = $11,400 : 1,000 

$11.4 

Harga pokok penjualan = 700 x $ 11.4 = $7,980

Persediaan akhir = 300 x $11.4 = 3,240

 

  1. Jika perusahaan menggunakan Sistem Perpetual

Jika perusahaan menggunakan sistem perpetual, penentuan harga pokok barang yang dijual dan persediaan akhir dilakukan setiap perusahaan menjual barang. Untuk mempermudah pekerjaan menentukan harga pokok ini digunakan suatu kartu yang lazim disebut Kartu Persediaan. Satu jenis barang disediakan satu Kartu. Dengan demikian sistem ini baru cocok untuk persediaan yang nilainya tinggi.

Misalkan atas satu jenis barang diperoleh informasi sebagai berikut:

    Tanggal 

Keterangan 

Unit 

Harga Beli per Unit 

Jan. 1 

Persediaan 

200 

$10 

12  

Pembelian

400 

$12 

17  

Dijual 

300 

 

26 

Pembelian 

300 

$11 

27  

Dijual 

200 

 

28 

Dijual 

300 

 

30 

Pembelian 

100 

$13 

 

Berikut ini hanya diberikan contoh metode FIFO:

 

Tgl

 

Ket

Dibeli

Dipakai

Persediaan

Unit

Cost

Jumlah

Unit

Cost

Jumlah

Unit

Cost

Jumlah

Jan 1

Persediaan

 

 

 

 

 

 

200

10

2,000

12 

Pembelian 

400

12

4,800

 

 

 

200

400 

10

12 

2,000

4,800 

17 

Dijual 

 

 

 

200

100

10

12

2,000

1,200

300 

12 

3,600 

26 

Pembelian 

300 

11 

3,300 

 

 

 

300

300 

12

11 

3,600

3,300 

27 

Dijual 

 

 

 

200

12

2,400

100

300 

12

11 

1,200

3,300 

28 

Dijual

 

 

 

100

200 

12

11 

1,200

2,200 

100 

11 

1,100 

30 

Pembelian 

100 

13 

1,300 

 

 

 

100

100 

11

13 

1,100

1,300 

 

  1. MENAKSIR COST PERSEDIAAN

Kadangkala situasi tidak memungkinkan dilakukan penghitungan fisik atau sistem perpetual sangat mahal untuk diterapkan. Suatu supermarket dengan beribu macam jenis persediaan mungkin akan terganggu operasionalnya jika setiap bulan harus melakukan penghitungan fisik persediaan dalam rangka menyusun laporan keuangan bulanan. Perusahaan asuransi dalam menentukan besarnya kerugian atas persediaan yang terbakar tidak mungkin menghitung secara fisik barang yang terbakar karena barangnya sudah rusak bahkan habis.

Keadaan di atas mendorong dilakukan penaksiran cost dari persediaan. Terdapat dua metode yang sering digunakan yaitu metode harga eceran dan metode laba kotor.

    1. Metode Harga Eceran

Cost persediaan ditentukan dengan mengkonversi persediaan menurut harga eceran menjadi cost dengan mengggunakan prosentase cost terhadap harga eceran. Contoh:

                    

                        Harga Pokok (Cost)    Harga Eceran

Persediaan 1 Januari 2005            $ 60,000        $ 100,000

Pembelian Januari 2005                $ 540,000        $ 900,000

Barang tersedia untuk dijual            $ 600,000        $ 1,000,000

% Cost thd Harga Eceran=

    (600,000 : 1,000,000) x 100% = 60%

Penjualan                                $ 700,000

Persediaan akhir                            $ 300,000

 

Nilai cost persediaan akhir = 60% x $ 300,000 = $ 180,000

    1. Metode Laba Kotor

Persediaan akhir ditentukan dengan cara persediaan awal ditambah dengan pembelian selama satu periode kemudian dikurangi dengan harga pokok barang yang dijual pada periode yang bersangkutan. Untuk menentukan harga pokok penjualan, penjualan yang telah dicatat dalam rekening penjualan dikurangi dengan laba kotornya. Umumnya laba kotor ini sudah diketahui %-nya. Jika belum diketahui, % laba kotornya digunakan % laba kotor tahun-tahun sebelumnya. Misalkan persediaan awal tahun 2005 $ 100,000 pembelian selama bulan Januari $ 1,200,000 dan penjualan selam bulan Januari menurut rekening buku besar $ 90,000 dan laba kotor 20% dari harga jual, maka persediaan akhir dapat dihitung sebagai berikut:

        Persediaan 1 Januari 2005                    $ 100,000

        Pembelian Januari 2005                        $ 1,200,000

        Barang tersedia untuk dijual                    $ 1,300,000

        Penjualan                $ 900,000

        Laba Kotor (20% x $ 900,000)        $ 180,000

        Harga pokok barang yang dijual                    $ 720,000

        Persediaan akhir                        $ 580,000

 

  1. MENYAJIKAN NILAI PERSEDIAAN DI NERACA

Nilai yang disajikan di neraca dpat saja nilai costnya seperti yang telah ditentukan dengan berbagai asumsi arus barang. Nilai yang disajikan di neraca dapat juga nilai pasarnya. Atau dapat juga dipilih yang terendah antara cost dengan harga pasarnya.

Biasanya nilai yang disajikan di neraca adalah nilai yang terendah antara cost dengan harga pasarnya. Misalnya dalam perusahaan mempunyai persediaan dengan cost $ 1,000. Pada akhir tahun harga pasar dari persediaan tersebut adalah $ 900, maka yang disajikan di neraca adalah $ 900. Jika harga pasar barang tersebut adalah $ 1,100, maka yang disajikan di neraca adalah costnya yaitu $ 1,000.

Yang dimaksud dengan cost adalah pasar harga yang tidak lebih tinggi dari ceiling dan tidak boleh lebih rendah dari floor. Ceiling adalah taksiran harga jual dikurangi dengan taksiran biaya penjualan barang tersebut. Floor adalah ceiling dikurangi dengan laba normal. Misalkan perusahaan telah menaksir biaya penjualan adalah 2% dari harga jual dan laba kotor yang normal bagi perusahaan itu adalah 20% dari harga jual maka berikut ini diberikan beberapa kemungkinan sebagai berikut:

 

Kasus

 

Cost

($) 

Market 

 

COMWIL

($)

Replacement

Cost ($) 

Floor

($) 

Ceiling

($) 

Market

($) 

A

.65

.70

.55

.80

.70

.65

B

.65

.60

.55

.80

.60

.60

.65

.50

.55

.80

.55

.55

.50

.45

.55

.80

.55

.50

.75

.85

.55

.80

.80

.75

.90

1.00

.55

.80

.80

.80

 

Dalam kasus A replacement cost berada di antara floor dan ceiling, oleh karena itu replacement cost akan mewakili market untuk dibandingkan dengan cost yaitu $ .65. Ternyata cost $.65 lebih rendah dari market ($.70) oleh karena itu harga yang dilaporkan adalah cost nya yaitu $ .65.

Dalam kasus B, replacement cost yang $.60 berada di antara ceiling, dan floor oleh karena itu replacement cost dapat mewakili market kemudian dibandingkan dengan cost $.65. Ternyata market lebih rendah, maka yang disajikan di neraca adalah market.

Dalam Kasus C, replacement cost $.50 ternyata dibawah floor maka market diwakili oleh floor, kemudian dibandingkan dengan cost, ternyata floor lebih rendah, maka yang disajikan di neraca adalah floor

Dalam kasus D, replacement cost di bawah floor, maka market diwakili oleh floor dan dibandingkan dengan cost. Ternyata cost lebih rendah, maka yang disajikan di neraca adalah cost. Begitu juga kasus E.

Dalam kasus F, replacement cost di atas ceiling, sehingga ceiling, mewakili market dan dibandingkan dengan cost, ternyata lebih rendah, sehingga yang disajikan di neraca adalah ceiling,.

 

SOAL LATIHAN

SOAL 1

Berikut ini disajikan data persediaan dari PT ABC untuk bulan Januari 2006:

Tanggal

Keterangan

Unit

Harga per Unit

Jan 1

Persediaan

10

$50

5

Pembelian

20

$55

10 

Pembelian

30 

$60 

15 

Penjualan 

15 

 

20 

Pembelian 

20 

$65 

25 

Penjualan 

25 

 

 

Diminta:

  1. Susun kartu persediaan dengan metode FIFO, LIFO, dan Average.
  2. Buat jurnal transaksi tanggal 15 dan 25 Januari dengan masing-masing metode di atas.

 

SOAL 2

Persediaan per 1 Januari 2007 at cost Rp 6.000.000,00 sementara itu harga ecerannya Rp 10.000.000,00. Pembelian bulan Januari Rp 30.000.000,00, kemudian ditetapkan harga ecerannya Rp 50.000.000,00. Menurut data penjualan dari pita yang ada pada cash register, penjualan selama bulan Januari Rp 40.000.000,00. Berdasarkan informasi di atas, tentukan cost persediaan akhir dengan menggunakan metode harga eceran.

 

SOAL 3

Persediaan pada tanggal 1 Januari 2007 Rp 2.000.000,00. Selama bulan Januari perusahaan telah membeli barang dengan harga Rp 10.000.000,00. Penjualan bulan Januari sebesar Rp 11.000.000,00. Laba kotor ditetapkan oleh perusahaan sebesar 25% dari harga jual. Berdasarkan data di atas, tentukan cost persediaan akhir dengan menggunakan metode laba kotor.

Diposkan oleh Arif Nurhuda di 06:41

Label: Dasar-Dasar Akuntansi

Persediaan adalah barang yang dimiliki  untuk dijual atau untuk diproses selanjutnya dijual. Berdasarkan pengertian di atas maka perusahaan jasa tidak memiliki persediaan, perusahaan dagang hanya memiliki persediaan barang dagang sedang perusahaan industri memiliki 3 jenis persediaan yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi (siap untuk dijual).

Dalam laporan keuangan, persediaan merupakan hal yang sangat penting karena baik laporan Rugi/Laba maupun Neraca tidak akan dapat disusun tanpa mengetahui nilai persediaan. Kesalahan dalam penilaian persediaan akan langsung berakibat kesalahan dalam laporan Rugi/Laba maupun neraca.

Dalam perhitungan Rugi/Laba nilai persediaan (awal & akhir) mempengaruhi besarnya Harga Pokok Penjualan (HPP).

HPP = PERSEDIAAN AWAL+PEMBELIAN BERSIH– PERSEDIAAN AKHIR

Untuk mencatat taransaksi-transaksi yang mempengaruhi nilai persediaan, terdapat 2 metode sebagai berikut :

1. Metode Pisik/Periodik (Periodik/Phisical Inventory System)

Dalam metode ini pencatatan persediaan hanya dilakukan pada akhir periode akuntansi melalui ayat jurnal penyesuaian. Transaksi yang mempengaruhi persediaan, dicatat masing-masing dalam perkiraan tersendiri sebagai berikut: Pembelian , Retur pembelian , Penjualan  dan Retur penjualan.

PERIODE AWAL

Perobahan persediaan   (Harga Pokok)

 

   

999,999.99

 

 
       

Persediaan

 

999,999.99

 
       

 

PEMBELIAN

Pembelian (Harga Pokok)

999,999.99

 

Ppn

999,999.99

 

Utang / Kas

 

999,999.99

  

PENJUALAN

Piutang/ Kas /Bank

999,999.99

 

Penjualan

 

999,999.99

Ppn

 

999,999.99

 

AKHIR PERIODE

Persediaan

999,999.99

 

Perubahan Persediaan (Harga Pokok)

 

999,999.99

 

Untuk mendapatkan nilai persediaan secara periodik dilakukan perhitungan fisik (Stock Opname).

Metode ini sudah mulai ditinggalkan karena secara jelas tidak mendukung integrasi system dimana, sepanjang peridode akuntansi berjalan tidak tersedia data mengenai  posisi persediaan. Hal ini menyebabkan data bagian akuntansi kurang mendukung  operasional. Laporan neraca  dan rugilaba tidak akan dapat dibuat sebelum nilai persediaan diketahui.

2.     Metode Perpetual  (Continual Inventory System)

Dalam metode ini pencatatan persediaan dilakukan setiap terjadi transaksi yang mempengaruhi persediaan. Saldo perkiraan persediaan akan menunjukan saldo persediaan yang sebenarnya. Dengan demikian pada saat penyusunan laporan keuangan tidak diperlukan ayat jurnal penyesuaian. Pencatatan transaksi kedalam perkiraan persediaan, adalah berdasarkan harga pokok produksi, baik transaksi pembelian maupun penjualan. Metode ini akan menampilkan dapat menyediakan laporan neraca setiap saat baik  untuk di print_out maupun secara visual.

A.       WAKTU PEMBELIAN

Persediaan

999,999.99

 

Ppn

999,999.99

 

Utang/Kas/Bank

 

999,999.99

 

B.       WAKTU DISTRIBUSI (PEMAKAIAN)     

Persediaan barng dalam proses

999,999.99

 

Pesediaan bahan baku

 

999,999.99

  

C.      PENERIMAAN HASIL PRODUKSI

Persediaan barang Jadi

999,999.99

 

Persediaan Dalam Proses

 

999,999.99

PENJUALAN

1.       Harga Jual

Piutang/Kas/Bank

999,999.99

 

Penjualan

 

999,999.99

Ppn

 

999,999.99

 

2.       Harga Pokok

Harga Pokok Penjualan

999,999.99

 

Persediaan Barang yang dijual

 

999,999.99

 

PENYESSUAIAN AKHIR

1.       JIKA SALDO SEMENTARA <  STOCK OPNAME

Koreksi persediaan/Barang dalam proses

999,999.99

 

Koreksi pemakaian bahan

 

999,999.99

 

2.       JIKA SALDO SEMENTARA > STOCK OPNAME

Koreksi pemakaian Bahan

999,999.99

 

Persediaan/Barang dalam prosess

 

999,999.99

 

Walaupun system perpetual menyediakan data persediaan secara terus menerus namun tetap diperlukan perhitungan fisik yang berfugnsi untuk mencocokan  fisik dengan catatan buku.

Penilaian Persediaan

Masalah-masalah yang timbul dalam penilaian persediaan dalam satu periode adalah :

Menetapkan jumlah dan nilai persediaan yang sudah terjual / sudah menjadi biaya.

Menentukan jumlah dan nilai persediaan yang belum terjual (yang harus dilaporkan dineraca)

Harga Pokok (Cost) dalam persediaan adalah semua pengeluaran-pengeluaran langsung/tidak langsung yang timbul untuk perolehan penyiapan dan penempatan agar persediaan tersebut dapat dijual.

Terdapat beberapa biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan persediaan antara lain harga beli, biaya-biaya pembelian, ongkos angkut, pajak, asuransi, pergudangan dan lain-lain, namun harga pokok barang biasanya hanya terdiri dari harga beli ditambah ongkos angkut sedangkan biaya-biaya lain dicatat sebagai biaya dalam perkiraan tersendiri untuk periode yang bersangkutan.

Dalam perusahaan industri maupun perusahaan dagang, transaksi menyangkut  persediaan  adalah hal pokok yang menyangkut sebagian besar system akuntansi.  Untuk itu perlu dibedakan dengan jelas sehingga dapat dipahami bahwa subs system  Inventory hanyalah bagian tertentu dari persediaan

Subs system yang secara langsung berkaitan dengan persediaan adalah  Accounts Payable, Accounts Receivable sedangkan Kas yang telah kita bahas dapat berhubungan secara langsung  dan dapat pula tidak.

Subs System Inventory, Purchase dan Invoice  biasa merupakan subs system khusus mengolah data operasional yang menghasilkan output sebagai bukti transasksi yang digunakan sebagai dasar  pecatatan ke buku besar  buku jurnal.

Persediaan dicatat melalui jurnal Pembelian dan jurnal penjualan sesuai dengan pilihan metode yang dipilih. Pada aplikasi ini adalah system perpetual Inventory. Proses menyusun jurnal transaksi dilakukan oleh aplikasi dari file transaksi sehingga pemakai hanya mencatat transaksi pada formulir elektronik yang disediaakan selanjutnya adalah tugasnya komputer.

Like this:

Suka

Be the first to like this post.

SISTEM AKUNTANSI PERSEDIAAN
Tipe Persediaan
Persediaan produk Jadi
Persediaan Produk Dalam Proses
Persediaan Bahan Baku
Persediaan Bahan Penolong
Persediaan Bahan Habis Pakai, Suku Cadang
Metode Pencatatan Persediaan
Metode Mutasi Persediaan (perpetual)
Metode Persediaan Fisik (physical)

Metode Penentuan Harga Pokok
Metode FIFO
Metode LIFO
Metode Avarage
Prosedur Pencatatan Produk Jadi
Dokumen : Laporan produk selesai dan bukti memorial.
Catatan akuntansi : kartu gudang, kartu persediaan dan jurnal umum.
Prosedur Pencatatan Harga Pokok Produk Jadi Yang Dijual
Dokumen : Surat order pengiriman dan faktur penjualan.
Catatan akuntansi : Kartu gudang, kartu persediaan dan jurnal umum.
Prosedur Pencatatan Harga Pokok Produk Yang DIterima kembali Dari Pembeli
Dokumen : Laporan penerimaan barang dan memo kredit.
Catatan akuntansi : kartu gudang, kartu persediaan dan jurna umum.
Prosedur Pencatatan Harga Pokok persediaan Produk Dalam Proses
Dokumen : bukti memorial dan laporan produk dalam proses.
Prosedur Pencatatan Harga Pokok Persediaan Yang DIbeli
Dokumen : Laporan Penerimaan barang dan bukti kas/bank keluar
Prosedur Pencatatan Harga Pokok Persediaan Yang Dikembalikan Kepada Pemasok
Dokumen : Laporan pengiriman barang dan memo debit.
Prosedur Permintaan dan Pengeluaran Barang Gudang
Dokumen : Bukti permintaan dan pengeluaran barang gudang
Prosedur pengembalian Barabg Gudang
Dokumen : Bukti pengembalian barang gudang
Sistem Penghitungan Fisik Persediaan
Dokumen : Kartu penghitungan fisik, Daftar hasil penghitungan fisik dan bukti memorial
Catatan akuntansi : kartu persediaan, kartu gudang dan jurnal umum
Fungsi terkait : Panitia penghitungan fisik persediaan, fungsi akuntansi dan fungsi gudang

Sistem Penghitungan Fisik Persediaan
Jaringan prosedur yang membentuk sistem : prosedur penghitungan fisik, prosedur kompilasi, prosedur penentuan harga pokok persediaan dan prosedur adjustment
Pengendalian Intern – Organisasi
Penghitungan fisik persediaan harus dilakukan oleh suatu panitia yang terdiri dari fungsi pemegang kartu penghitungan fisik, fungsi penghitung dan fungsi pengecek
Panitia yang dibentuk harus terdiri karyawan, selain karyawan fungsi gudang dan fungsi akuntansi persediaan, karena karyawan dikedua fungsi dievaluasi tanggungjawabnya
Pengendalian intern otorisasi

SISTEM AKUNTANSI ASET TETAP
Deskripsi Aset Tetap
Kekayaan perusahaan memiliki wujud, mempunyai manfaat ekonomis lebih dari satu tahun dan diperoleh oleh perusahaan untuk melaksanakan kegiatan perusahaan, bukan untuk dijual kembali serta memiliki wujud
Penggolongan
Tanah
Bangunan
Mesin
Kendaraan
Inventaris
Struktur Kode Aset Tetap
X XX XX X XX X

Golongan Aset tetap
Jenis Aset tetap
Tahun Perolehan

Fungsi
Lokasi
Portability
Golongan
1 = Tanah dan perbaikan
2 = Gedung dan perbaikan
3 = Mesin
4 = Inventaris kantor
5 = Inventaris Pabrik
6 = Kendaraan kantor
7 = Kendaraan pabrik

Jenis Aset Tetap
01 = Mesin ketik
02 = Komputer
03 = Laptop
04 = Handphone
05 = Telepon
dst
Tahun Perolehan
11 = 2011
10 = 2010
Fungsi
1 = Produksi
2 = Pemasaran
3 = Administrasi dan Umum
Lokasi
X x xx xx

Daerah
Gedung
Lantai
Nomor kamar
Portability
1 = Portable (Dapat dibawa dengan tangan manusia)
2 = Movable (dapat dipindahkan dengan bantuan peralatan)
3 = Fixture (melekat pada aset lain)

4-02-11-3-22113-2 artinya ?

Dokumen
Surat permintaan otorisasi investasi
Surat permintaan reparasi
Surat permintaan transfer aset tetap
Surat permintaan penghentian pemakaian aset tetap
Surat perintah kerja
Dokumen
Surat order pembelian
Laporan penerimaan barang
Faktur dari pemasok
Bukti kas keluar
Bukti memorial
Catatan Akuntansi
Kartu aset tetap
Jurnal umum
Register bukti kas keluar
Fungsi yang terkait
Pemakai
Riset dan pengembangan
Direktur utama
Pembelian
Penerimaan
Aset Tetap
Akuntansi
Jaringan Subsistem
Sistem pembelian aset tetap
Sistem perolehan aset tetap melalui pembangunan sendiri
Sistem pengeluaran modal
Sistem penghentian pemakaian aset tetap
Sistem transfer aset tetap
Jaringan Subsistem
Sistem revaluasi aset tetap
Sistem pencatatan depresiasi aset tetap
Pengendalian Intern Organisasi
Semua Fungsi terkait terpisah
Transaksi perolehan, penjualan dan penghentian pemakaian aset tetap harus dilaksanakan oleh lebih dari unit organisasi yang berkerja secara independen
Pengendalian Intern Otorisasi
Anggaran investasi diotorisasi RUPS
Semua dokumen bentuk surat diotorisasi Direktur Utama.
Surat perintah kerja diotorisasi KaDep
LPB diotorisasi pembelian
BKK diotorisasi akuntansi
Pengendalian Intern Prosedur
Perubahan kartu aset tetap harus didasarkan bukti dan diotorisasi pejabat berwenang
Pengendalian Intern Praktek Sehat
Secara periodik dilakukan pengecekan fisik
Harus ada kebijakan aset tetap

Sumber: http://id.shvoong.com/business-management/accounting/2174298-sistem-akuntansi-persediaan-dan-sistem/#ixzz1f5j2meOc